dan bila
aku tidak bisa menjadi tetamu senja
dek ketiduran lena terpanjang ke lail
menahan mendung daripada gerimis
menghindar jiwa menagih mengemis.
dan bila
bertandangnya rasa sewaktu bangkit
dipinggir jauh nun ke hulu tepi
diusir senyum pun lari pergi
lalu yang terbujur lesi ini
menghadap putih siling mata ke atas
menghalau waktu melintas pantas.
apa mana mungkin mahu dibisingkan
suatu yang langsung tidak riuh?
sedangkan aku sendiri sedang
berdiri sesat di haluan rapuh.
rasa seperti disampahkan hidup-hidup.
0 busur komentar:
Post a Comment